"Selamat Datang Di Fahriikurniiawan.blogspot.com,,,Mari Berbagi Inspirasi dan Pengalaman"

Kamis, 06 Desember 2012

SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN PSIKOTIK


SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN PSIKOTIK

BAB I
PENDAHULUAN

Skizofrenia bukanlah penyakit jiwa yang tidak dapat disembuhkan. Peningkatan angka relapse pada pasien Skizofrenia pasca perawatan dapatmencapai 25% - 50% yang pada akhirnya dapat menyebabkan keberfungsiansosialnya menjadi terganggu.
            Skizofrenia bisa terjadi pada siapa saja. Seringkali pasien Skizofreniadigambarkan sebagai individu yang bodoh, aneh, dan berbahaya (Irmansyah,2006). Sebagai konsekuensi kepercayaan tersebut, banyak pasien Skizofrenia tidak dibawa berobat ke dokter (psikiater) melainkan disembunyikan, kalaupun akan dibawa berobat, mereka tidak dibawa ke dokter melainkan dibawa ke “orang pintar” (Hawari, 2007).
            Sebagai mahasiswa psikologi kita ditutut untuk mampu bersikap humanis, karena ranah kebermanfaatan seorang psikolog adalah hubungannya dengan manusia, bagaimana membantu untuk meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kualitas dan produktifitas seseorang, mengelola dan membantu menyelsaikan permasalahan kejiwaan seseorang. Maka dari itu, sangat penting bagi kita sebagai calon psikolog untuk memahami lebih banyak tentang apa itu skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya agar mampu mengambil sikap yang lebih bijak dalam memahami setiap symtomp yang dialami oleh seorang individu. Mengambil sikap lebih bijak maksudnya adalah bagaimana menghadapi klien dengan baik,serta melakukan pencegahan dan pengobatan.

BAB II
ISI

A.  SKIZOFRENIA
1.      Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi dan berperilaku dengan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial. (Durand dan Barlow, 2007)
Skizofrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamine, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal, sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsangan panca indera) (Arif, 2006).
Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk.

2.      Penyebab Skizofrenia
Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti penyebab skizofrenia. Ada yang berpendapat karena keturunan, atau kerusakan kelenjar-kelenjar tertentu dari tubuh, mulai menyerang setelah orang menghadapi satu peristiwa yang menekan, yang akibatnya muncul penyakit yang mungkin tersembunyi di dalam diri seseorang (Ardani dkk, 2007).
a.      Faktor genetis
Skizofrenia disebabkan oleh banyak faktor. Skizofrenia jelas-jelas memiliki dasar biologis. namun nampaknya faktor psikososial juga berperan penting.
Hal pertama yang tidak boleh dilupakan adalah genetika. Walaupun ada kesulitan untuk menentukan gen mana yang mengakibatkan timbulnya skizofrenia, penelitian menunjukkan bahwa faktor pewarisan gen memiliki peranan dalam timbulnya skizofrenia pada seorang individu.
Dari berbagai penelitian terhadap anak kembar. mulai yang dilakukan oleh Luxenburger (1928) hingga Gottesman dan Shields (1972) dapat diketahui potensi anak kembar satu telur (monozygotic twin) untuk menderita skizofrenia adalah 35-69%. Pada kembar dari telur yang berbeda (dizygotic twin) kemungkinannya adalah 0-27% (Atkinson, Atkinson dan Hilgard. Pengantar Psikologi. 1996).
Apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, maka kemungkinan anaknya menderita skizofrenia adalah 10%. Sedangkan bila kedua orang tua menderita skizofrenia kemungkinannya naik menjadi 40%. bahkan bila tak ada kerabat yang menderita skizofrenia, seseorang secara genetis masih mungkin menderita skizofrenia, karena potensi dalam populasi untuk menderita skizofrenia adalah 1%. Sehingga saat ini di kala Indonesia berpenduduk 230 juta jiwa, maka ada 2,3 juta orang yang menderita skizofrenia di negeri ini.
b.      Faktor Neurokimiawi
Teori biokimiawi yang paling terkenal adalah hipotesis dopamin. Dopamin adalah salah satu neurotransmiter (zat yang menyampaikan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain) yang berperan dalam mengatur respon emosi. Pada penderita skizofrenia, dopamin ini dilepaskan secara berlebihan di dalam otak. Sehingga timbullah gejala-gejala seperti waham an halusinasi.
Adapun penggunaan antipsikotik (obat medis untuk skizofrenia) generasi pertama (yang terkenal dengan sebutan obat tipikal) seperti Haloperidol dapat menimbulkan suatu dilema karena obat ini menekan pengeluaran dopamin di mesolimbik dan mesokortikal. Penurunan aktivitas dopamin di jalur mesolimbik memang dapat mengatasi gejal positif seperti waham dan halusinasi, namun akan meningkatkan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri dari peraulan sosial dan penurunan daya pikir. hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan antipsikotik generasi kedua (yang terkenal dengan sebutan obat atipikal) seperti Risperidone dan Quetiapine karena antipsikotik atipikal menyebabkan dopamin di jalur mesolimbik menurun tetapi dopamin yang berada di jalur mesokorteks meningkat. (Benhard Rudyanto Sinaga. Skizofrenia dan Diagnosis Banding. 2007).
3.      Ciri-Ciri Skizofrenia
Gejala-gejala skizofrenia adalah dingin perasaan, banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari kenyataan, mempunyai prasangka-prasangka yang tidak benar, salah tanggapan, halusinasi pedengaran, penciuman atau penglihatan, banyak putus asa dan keinginan menjauhkan diri dari masyarakat (Ardani dkk, 2007).
Sedangkan menurut Bleuer, ciri atau simtom skizofrenia ada empat, yaitu:
a.       Asosiasi. Asosiasi atau hubungan antara pikiran-pikiran yang terganggu.
b. Afek. Afek atau respon emosional, menjadi datar dan tidak sesuai. Yakni, tidak bisa mengekspresikan kapan dia sedih dan kapan dia senang.
c.   Ambivalensi. Perasaan ambivalen atau konflik terhadap orang lain, seperti mencintai dan membenci mereka pada saat yang sama.
d.   Autisme. Autisme adalah istilah yang menjelaskan penarikan diri ke dunia fantasi pribadi yang tidak terikat oleh prinsip-prinsip logika.

4.      Macam-Macam atau Jenis-Jenis Skizofrenia
Dalam PPDJ, skizofrenia dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
a.       F20.0 skizofrenia paranoid (curiga, bermusuhan, garang dsb)
       Jenis skizofrenia inia gak berbeda dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya jenis penyakit. Jenis ini mulai sesudah umur 30 tahun, penderita mudah tersinggung, cemas, suka menyen diri, agak congkak dan kurang percaya pada orang lain. Hal ini dilakukan penderitakarena adanya waham kebesaran dan atau waham kejar ataupun tema lainnya disertai juga dengan halusinasi yang berkaitan.
Ciri  utama : waham yang  mencolok  atau  halusinasi  auditory  dalam  konteks terdapatnya fungsi  kognitif dan afek yang  relative  masih  terjaga. Wahamnya   bisanya adalah  waham  kejar,  waham  kebesaran atau  keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misal :waham kecemburuan) mungkin juga muncul.
Ciri-ciri lainnya  meliputi : anxiety, kemarahan, menjaga  jarak dan suka beragumentasi.  Individu mungkin mempunyai tingkah laku superior dan mungkin mempunyai interaksi interpersonal yang formal, kaku  atau terlalu intens.
b.      F20.1 skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil, merengek-rengek, minta-minta, dsb)
Yaitu jenis skizofrenia yang permulannya perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.
c.       F20.2 skizofrenia katatonik (seperti patung, tidak mau makan, tidak mau minum)
Ciri utama pada skizofrenia tipe katatonik  adalah : gangguan  pada psikomotor  yang meliputi : ketidakbergerakan motorik ( motoric immobility), aktivitas motor yang berlebihan, negativism yang ekstrim, mutism (sama sekali tidak mau berbicara dan berkomunikasi), gerakan-gerakan yang tidak terkendali, echolalia (mengulang ucapan orang lain) atau echopraxia (mengikuti tingkah  laku  orang  lain).
d.      F20.3 skizofrenia tak terinci
e.       F20.4 depresi pasca skizofrenia
f.       F20.5 skizofrenia residual
Yaitu jenis skizofrenia dengan gejala mengalami gangguan proses berpikir, gangguan afek dan emosi, ganguan emosi serta gangguan psikomotor. Namun, tidak ada gejala waham dan halusinasi. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia.
Diagnosa skizofrenia ini diberikan bila paling tidak satu kali episode skizofrenia dan memiliki gambaran klinis tanpa simtom positif yang menonjol. Terdapat bukti bahwa gangguan ditandai oleh adanya simtom negatif atau simtom positif yang lebih halus.
Kriteria diagnostik untuk skizofrenia Residual:
-   Tidak ada yang menonjol dalam hal delusi, halusinasi, pembicaraan kacau, tingkah laku kacau atau tingkah laku katatonik.
-   Terdapat bukti keberlanjutan gangguan ini, ditandai oleh adanya simtom – simtom negatif dalam bentuk yang lebih ringan.
Sejenis skizofrenia dimana gejala-gejala yang muncul sulit untuk digolongkan pada tipe skizofrenia tertentu.
g.      F20.6 skizofrenia simpleks (seperti gelandangan, jalan terus, kluyuran)
Yaitu skizofrenia yang sering timbul pertama kali pada masa pubertas (pada beberapa kasus). Gejala utamanya adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya ditemukan, waham dan halusinasinya jarang sekali ada.

5.      Perspektif Aliran-aliran
Berbagai cara dilakukan untuk memahami dan mengatasi skizofrenia. Dalam perspektif psikologis, khususnya perspektif psikodinamik dan perkembangan, diyakini bahwa skizofrenia bukanlah gangguan yang terjadi secara langsung dan tiba-tiba melainkan merupakan hasil suatu proses panjang. Proses berakar pada gangguan relasi yang paling awal, yaitu antara bayi dan caregiver-nya (McGlashan; Arif, 2006). Sementara itu teori keluarga menjelaskan bahwa beberapa pasien skizofrenia sebagaimana orang mengalami penyakit non-psikiatrik berasal dari keluarga dengan disfungsi. Selain itu, hal yang juga relevan adalah perilaku keluarga yang patologis, yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia (makalah pembahal
Gangguan dini dalam relasi ini kemudian mengakibatkan kerentanan dan berujung pada kerusakan yang berat bagi individu yang bersangkutan. Interaksi bayi dengan pengasuh atau bahkan ibunya (yang menjadi primary object) harus menghasilkan ruang psikologis yang memadai untuk pertumbuhan kepribadiannya. Demikian juga dengan anggota keluarga lainnya yang mungkin akan menjadi external object relations pertama bagi si bayi (bila bayi tumbuh di lingkungan keluarganya). Respon positif terhadap keberadaan bayi tersebut akan meneguhkan dan membentuk kepribadian yang sehat pada bayi tersebut. Kepribadian yang sehat ini kelak ditandai dengan coping yang baik terhadap masalah yang dihadapi.
Dari perspektif behavioral dijelaskan bahwa patologi terjadi karena proses belajar yang salah. Hal ini berkaitan dengan perspektif kognitif yang menjelaskan bahwa patologi terjadi karena keyakinan dan proses kognitif yang salah, yang bisa jadi karena proses belajar yang salah juga. Prinsip reward dan punishment pada proses belajar juga akan terkait dengan pengaktualisasian potensi yang dibatasi jika individu terlalu banyak mendapat punishment saat belajar, sehingga patologi muncul. Jika skizofrenia ditilik dari perspektif humanistik, maka pasti ada pembatasan aktualisasi diri yang berlebihan pada diri penderita gangguan psikotik ini (Alwisol, 2007).
Sementara jika ditilik dari perspektif spiritual Islami, penderita gangguan psikotik adalah hasil dari ketidakseimbangan kesehatan mental, kesehatan sosial, kesehatan spiritual, kesehatan finansial, dan kesehatan fisik. Menurut perspektif spiritual Islami, manusia akan sehat secara holistik jika mampu menyeimbangkan seluruh aspek kesehatan yang dimiliknya (Adz Zakiey, 2007).
Dari penjabaran di atas, jelas bahwa diperlukan multiperspektif untuk menjelaskan skizofrenia secara tepat. 

6.      Prevalensi
Prevalensi (kemungkinan terjadi) gangguan skizofrenia dapat dilihat pada daftar di bawah ini:
a.         Populasi umum                                                     1%
b.      Saudara Kandung                                                 8%-10%
c.       Anak dengan salah satu orang tua skizofrenia      12%-15%
d.      Kembar 2 telur (dizigot)                                       12%-15%
e.       Anak dengan kedua orang tua skizofrenia           35%-40%
f.       Kembar monozigot                                               47%-50%
7.      Terapi
a.       Terapi Biologis atau Medis
Sejak tahun 1990-an telah ditemukan obat bagi penderita skizofrenia. Obat yang disebut Neuroleptics ini mampu mengurangi gejala kegilaan yang muncul pada penderita skizofrenia. Menurut Hawari, obat skizofrenia versi lama hanya menyembuhkan gejala positif skizofrenia, seperti gampang mengamuk dan gemar berteriak-teriak. Sayangnya, obat tersebut tidak menyembuhkan gejala negatif. Penderita skizofrenia yang mengonsumsi obat versi lama masih sering tampak bengong dan gemar melamun. Sementara obat skizofrenia versi baru, menurut Hawari (Arif, 2006), berhasil menyembuhkan gejala-negatif sekaligus positif.
Obat bagi penderita skizofrenia biasa disebut neuroleptics (berarti mengendalikan syaraf). Jika efektif, obat ini mampu membantu orang untuk berpikir lebih jernih dan mengurangi delusi atau halusinasi. Obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi gejala positif (delusi, halusinasi, agitasi). Dalam kadar yang lebih rendah, obat ini dapat mempengaruhi gejala-gejala negatif dan disorganisasi. Fungsi neuroleptics adalah antagonis dopamin. Seperti diketahui bahwa jumlah dopamine yang berlebihan menjadi pemicu munculnya skizofrenia.
Penelitian dalam Journal of Psychiatry menyebutkan bahwa penggunaan milnacipran mampu menghambat afek negative skizofrenia seperti avolisi, alogia, dan asocial. Kasus ini terjadi pada penderita skizofrenia berusia 37 tahun yang dirawat di rumah sakit jiwa (Hoaki et al, 2009)
b.      Terapi Keluarga
Selainterapiobat, psikoterapi keluarga adalah aspek penting dalam pengobatan. Padaumumnya, tujuan psikoterapi adalah untuk membangun hubungan kolaborasi antara pasien, keluarga, dan dok ter atau psikolog. Melalui psikoterapi ini, maka pasien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan lingkunganya.  Keluarga dan teman merupakan pihak yang juga sangat berperan membantu pasien dalam bersosialisasi. Dalam kasus skizofrenia akut, pasien harus mendapat terapi khusus dari rumah sakit. Kalau perlu, ia harus tinggal di rumah sakit tersebut untuk beberapa lama sehingga dokter dapat melakukan control dengan teratur dan memastikan keamanan penderita.
Tapisebenarnya, yang paling penting adalah dukungan dari keluarga penderita, karena jika dukungan ini tidak diperoleh, bukan tidak mungkin para penderita mengalami halusinasi kembali. Menurut Dadang, sejumlah penderita skizofrenia juga sering kambuh meski telah menyelesaikan terapi selama enam bulan. Karena itu, agar halusinasi tidak muncul lagi, maka penderita harus terus menerus diajak berkomunikasi dengan realitas. Namun, keluarga juga tidak boleh berlebih-lebihan dalam memperlakukan penderita skizofrenia.
Menurut dr. LS Chandra, SpKJ, penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari sikap expressed emotion (EE) atau reaksi berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, memanjakan, dan terlalu mengontrol yang justru bias menyulitkan penyembuhan.
Seluruh anggota keluarga harus berperan dalam upaya dukungan bagi penderita skizofrenia. Upaya membentuk self help group di antara keluarga yang memiliki anggota keluarga skizofrenia adalah sebuah langkah positif (Arif, 2006).
c.       Terapi Psikososial
Salah satu efek buruk skizofrenia adalah dampak negatif pada kemampuan orang untuk berinteraksi dengan orang lain. Meskipun tidak sedramatis halusinasi dan delusi, masalah ini dapat menimbulkan konflik dalam hubungan sosial. Para klinisi berusaha mengajarkan kembali berbagai keterampilan sosial seperti keterampilan percakapan dasar, asertivitas, dan cara membangun hubungan pada penderita skizofrenia. Klien juga diberikan terapi okupasi sebagai bagian untuk membantu mereka melaksanakan tugas sederhana dalam kehidupan sehari-hari (Smith, Bellack, dan Liberman, 1996; Durand dan Barlow, 2007)
d.      Psikoterapi Islami
       Psikologi Islami, dalam Jurnal Psikologi Islami, juga memberikan metode terapi untuk mengatasi gangguan kejiwaan berat. Psikoterapi doa sebenarnya dilakukan oleh klien yang mengalami gangguan kecemasan. Namun dalam konteks skizofrenia, keluarga harus senantiasa memberikan terapi doa untuk penderita skizofrenia. Doa diyakini sebagai cara yang ampuh untuk mengalirkan energi positif dari alam kepada manusia (Urbayatun, 2006).
       Perspektif spiritual dalam psikologi Islami meyakini bahwa ada yang salah dalam qalbu manusia sehingga ia terkena gangguan psikotik. Terapi psikotik dilakukan dengan cara menyucikan jiwa individu, baru kemudian jiwa tersebut diisi dengan kebaikan (oleh terapis).

8.      Prevensi
Skizofrenia memiliki basis/dasar biologis, seperti halnya penyakit kanker dan diabetes. Penyakit ini muncul karena ketidakseimbangan yang terjadi pada dopamine, yakni salah satu sel kimia dalam otak (neurotransmitter). Otak sendiri terbentuk dari sel saraf yang disebut neuron dan kimia yang disebut neurotransmitter. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan serotonin, norepinefrin, glutamate, dan GABA juga berperan dalam menimbulkan gejala-gejala skizofrenia.
Menurut Durand (2007), prevalensi penderita skizofrenia dari populasi umum adalah 0,2% sampai 1,5%. Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa setiap individu memiliki risiko untuk terkena gangguan psikotik ini. Ketidakseimbangan neurotransmitter dapat dicegah dengan cara tidak selalu mengonsumsi obat-obat psikoaktif. Pemakaian obat-obatan psikoaktif yang terlalu sering dapat menyebabkan gangguan halusinasi dan delusi (Durand, 2007).
Secara psikososial, penderita skizofrenia harus diterima dengan baik oleh pihak keluarga. Karena penderita skizoferia sebenarnya tidak dapat menerima emosi yang berlebihan dari orang lain (Durand, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi sejak dini merupakan hal yang penting dan bermanfaat dalam mempengaruhi perjalanan penyakit skizofrenia selanjutnya. Sehingga pengobatan secara benar dan penyediaan dukungan serta informasi bagi pasien serta keluarga dapat mencegah kekambuhan di masa yang akan datang (Fausiah & Widury; makalah pembahas)
Salah satu strategi untuk mencegah gangguan seperti skizofrenia (yang biasanya tampak pada masa dewasa awal) adalah dengan mengidentifikasi dan menangani anak-anak yang mungkin beresiko untuk mengalami gangguan ini di masa dewasanya kelak. (Durand & Barlow, 2007)
Selain itu, faktor-faktor seperti komplikasi kelahiran dan beberapa penyakit usia dini (misalnya, virus) dapat memicu onset skizofrenia, terutama di kalangan mereka yang secara genetik telah terdisposisi. Jadi, intervensi-intervensi seperti vaksinasi berbagai macam virus untuk perempuan usia subur dan intervensi-intervensi yang berhubungan dengan perbaikan nutrisi dan perawatan prenatal mungkin merupakan ukuran-ukuran preventif yang efektif (McGrath, dalam Durand & Barlow, 2006).
Ada tiga bentuk pencegahan primer. Pertama, pencegahan universal, ditujukan kepada populasi umum agar tidak terjadi faktor risiko. Caranya adalah mencegah komplikasi kehamilan dan persalinan. Kedua, pencegahan selektif, ditujukan kepada kelompok yang mempunyai risiko tinggi dengan cara, orang tua menciptakan keluarga yang harmonis, hangat, dan stabil. Ketiga, pencegahan terindikasi, yaitu mencegah mereka yang baru memperlihatkan tanda-tanda fase prodromal tidak menjadi skizofrenia yang nyata, dengan cara memberikan obat antipsikotik dan suasana keluarga yang kondusif (makalah pembahas).

B.  GANGGUAN PSIKOSIS
Pengertian menurut Singgih D. Gunarsa psikosis ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Menurut W.F Maramis menyatakan bahwa psikosis adalah suatu gangguaan jiwa dengan rasa kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan perasaan dan fikiran yang sedemikian berat sehinggan perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Pada penderita psikosis ini sudah tidak dapat menyadari apa penyakitnya, karena sudah menyerang seluruh keadaan netral dirinya. Ciri-cirinya meliputi:
a.    Disorganisasi proses pemikiran
b.    Gangguan emosional
c.    Disorientasi waktu dan ruang
d.   Sering atau terus berhalusinasi
1.      Gangguan Psikotik Singkat
Berdasar kategori DSM-IV, untuk gangguan psikotik singkat diberlakukan pada gangguan psikotik yang berlangsung dari satu hari hingga satu bulan dan ditandai dengan satu dari ciri-ciri berikut: waham, halusinansi, pembicaraan yang yang tidak terorganisasi, atau perilaku yang tidak terorganisasi atau katatonik.Gangguan psikotik singkat sering kali dihubungkan dengan satu atau beberapa stresor yang signifikan, seperti kehilangan orang yang dicintai, trauma perang. Dan pada perempuan yaitu onset postpartum(pasca melahirkan) yang dimulai dalam bulan pertama setelah kelahiran bayi.
2.      Gangguan Skizofreniform
Merupakan perilaku abnormal yang identik dengan skizofrenia, yang telah menetap setidaknya satu bulan, namun kurang dari enam bulan.
3.      Gangguan Delusi
Merupakan salah satujenis psikosis yang ditandai waham yang terus ada, sering kali bersifat paranoid, yang tidak memiliki kualitas yang tidak jelas sebagaimana bentuk yang ditemukan pada skizofrenia paranoid. Dalam hal ini, ada beberapa tipe delusi, yaitu sebagai berikut:
a.       Tipe erotomanik: keyakinan delusional bahwa orang lain, biasanya status sosial yang lebih tinggi, seperti bintang film atau figur politikus jatuh cinta pada dirinya.
b.      Tipe kebesaran: keyakinan yang mel;ambung tentang nilai, pentingnya, kekuasaan, pengetahuan, atau identitas mengenai diri sendiri, atau keyakinan bahwa dirinya memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan atau orang yang terkenal.
c.       Tipe cemburu: seseorang yang sangat yakin, tanpa sebab yang terjadi, bahwa kekasihnya tidak setia. Orang yang mengalami waham ini mungkin salah menginterpretasikan tanda-tanda tertentu sebagai tanda-tanda ketidaksetiaan.
d.      Tipe persekusi:jenis yang paling umum dari gangguan delusi, waham persekusi melibatkan tema-tema tentang adanya konspirasi untuk menentang dirinya, diikuti, dikhianati, dimata-matai, diracuni atau diberi obat, atau dilain pihak difitnah atau diberi perlakuan salah. Biasanya, orang ini menuntuk tindakan pengadilan, melawan, atau melakukan tindak kekerasan terhadap orang yang dianggap melakukan perbuatana salah ini.
e.       Tipe somatik:waham yang melibatkan kerusakan, penyakit, atau gangguan fisik. Orang-orang dengan waham seperti ini mungkin meyakini bahwa bau yang busuk keluar dari tubuh mereka, atau bahwa parasit-parasit di dalam tubuh memakan tubuh mereka, atau bagian tertentu tubuh mereka memiliki bentuk yang tidak lazim atau jelek, atau tidak berfungsi secara tepat meskipun buktinya kebalikannya.
f.       Tipe campuran: waham biasanya melibatkan lebih dari satu tipe, tidak ada tema tunggal yang mendominasi

4.      Gangguan Spektrum Skizofrenia/ gangguan skizoafektif
Merupakan satu jenis gangguan psikotik dimana individu mengalami gangguan mood yang parah dan ciri-ciri yang berhubungan dengan skizofrenia.

BAB III
KESIMPULAN

Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk.Penyebabskizofrenia sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Ada yang berpendapat karena keturunan, atau kerusakan kelenjar-kelenjar tertentu dari tubuh, mulai menyerang setelah orang menghadapi satu peristiwa yang menekan, yang akibatnya muncul penyakit yang mungkin tersembunyi di dalam diri seseorang.
Skizofrenia memiliki basis/dasar biologis, seperti halnya penyakit kanker dan diabetes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi sejak dini merupakan hal yang penting dan bermanfaat dalam mempengaruhi perjalanan penyakit skizofrenia selanjutnya.
Ada tiga bentuk pencegahan primer, pertama, pencegahan universal, ditujukan kepada populasi umum agar tidak terjadi faktor risiko. Kedua, pencegahan selektif, ditujukan kepada kelompok yang mempunyai risiko tinggi. Ketiga, pencegahan terindikasi, yaitu mencegah mereka yang baru memperlihatkan tanda-tanda fase prodromal tidak menjadi skizofrenia yang nyata.
Psikosis ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum.Ciri-cirinya meliputi disorganisasi proses pemikiran, gangguan emosiona, disorientasi waktu dan ruang, sering atau terus berhalusinasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ardani, Tristiadi Ardi dkk. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Alwisol. 2007. PsikologiKepribadian. Malang: UMM Press.
Arif, ImanSetiadi. 2006. Skizofrenia: MemahamiDinamikaKeluargaPasien. Bandung: PT. RefikaAditama.
Durand, V. Mark dan David H. Barlow.2007. IntisariPsikologi Abnormal. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Nevid, Jeffrey S. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 2. Jakarta: Erlangga.


1 komentar:

Prima Dewi mengatakan...

Apakah perbedaan mencolok antara pengidap Psikosis dengan Skizofrenia?

Posting Komentar

 
© Copyright 2010 _Fahri kurniawan_
Theme by Fahri Kurniawan