"Selamat Datang Di Fahriikurniiawan.blogspot.com,,,Mari Berbagi Inspirasi dan Pengalaman"

Kamis, 24 Mei 2012

Makalah Kesulitan Belajar ~> Penutup


                                                                                                             I.        PENUTUP

A.   KESIMPULAN
Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar. Masalah berkesulitan belajar termasuk dalam bidang pendidikan luar biasa. Jika tidak segera ditangani, lambat laun kesulitan belajarnya semakin kompleks, dan akhirnya menjadi masalah bagi pendidikan, karena sumber daya manusia (SDM) yang dipersiapkan menjadi tidak tercapai. Untuk itu perlu adanya upaya penanganan siswa berkesulitan belajar yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Jadi dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.

B.   DAFTAR PUSTAKA
Santrock, Jhon W. 2010. Psikologi Pendidikan edisi II. Jakarta:
Kencana Media Group
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan
Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Yasin, Sanjaya. 2011. Pengertian Kesulitan Belajar. (Online),
belajar.html, diakses 22 April 2012)
Tarmidi. 2008. Kesulitan Belajar (Learning Dissability) dan Masalah 
diakses 23 Mei 2012

Makalah Kesulitan Belajar ~> Pembahasan


      I.        PEMBAHASAN

A.   PENGERTIAN
Berikut ini adalah permasalahan belajar peserta didik agar dapat memberikan gambaran tentang perbedaan pada permasalahan belajar  menurut Warkitri, dkk. (dalam Sugihartono, dkk., 2007) meliputi:
1.    Kekacauan belajar (Learning Disorder) yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Anak yang mengalami kekacauan belajar potensi dasarnya tidak di ragukan, akan tetapi belajar anak terhambat oleh adanya reaksi-reaksi belajar yang bertentangan, sehingga anak tidak dapat mengusai bahan yang di pelajari dengan baik. Jadi dalam belajar anak mengalami kebingungan untuk memahami bahan belajar.
2.    Ketidakmampuan belajar (Learning Disabiliti) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang dicapai berada di bawah potensi intelektualnya
3.    Learning Disfunctions yaitu kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukan adanya subnormal mental, gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain. misalnya anak sudah belajar degan tekun tetapi tidak mampu menguasai bahan belajar dengan baik.
4.    Under Achiever, adalah suatu kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah. Dalam hal ini prestasi belajar yang dicapai anak tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki.
5.    Lambat belajar (Slow Learner) adalah kesulitan belajar yang di sebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya, sehingga setiap melakukan kegiatan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang sama.
Jadi salah satu permasalahan belajar adalah kesulitan belajar (learning disability). Menurut Hallahan, Kauman, & Lloyd (1985) kesulitan belajar (learning disabilty) adalah gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencangkup pemahaman dan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencangkup kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak hanya mencakup anak-anak yang mengalami problem belajar yang penyebab utamanya berasal dari hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi (Abdurrahman, 2003).
Kesulitan belajar sering kali mencangkup kondisi yang bisa jadi berupa adanya masalah dalam mendengar, berkonsentrasi, berbicara, membaca, menulis, menalar, berhitung, atau problem interaksi sosial. Jadi, anak yang memiliki masalah gangguan belajar boleh jadi memiliki profil yang berbeda-beda (Henly, Ramsey, & Algozzine, 1999). Gangguan belajar mungkin berhubungan dengan kondisi medis seperti fetal alkohol syndrome (American Psychiatric Association, 1994). Gangguan belajar juga terjadi bersama dengan lainya, seperti gangguan komunikasi dan gangguan emosional (Poloway dkk., 1997).
Kendati tingkat gangguan belajar itu bervariasi, dampak dari masalah kesulitan belajar ini terlihat jelas dan menetap (Bender. 1998; Raymond, 2000; Wong & Donahue, 2002). Kebanyakan problem ketidak mampuan belajar ini bertahan lama bahkan seumur hidup. Anak yang mengalami gangguan belajar yang diajar di kelas reguler tanpa dukungan ekstensif jarang yang mencapai level kompetensi yang setara dengan anak yang tidak punya masalah gangguan belajar (Hocutt, 1996). Akan tetapi walapun mereka memiliki program ini, banyak anak yang menderita gangguan belajar tumbuh dan menjalani hidup normal dan melakukan pekerjaan yang produktif (Pueschel, dkk., 1995).
Jadi dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.

B.   ASPEK
Aspek psikologi dari kesulitan belajar (Abdurrahman, 2003) meliputi:
1.    Aspek perkembangan
Kesulitan belajar disebabkan oleh faktor kematangan. Mempercepat atau memperlambat proses perkembangan dapat menimbulkan masalah belajar. Aspek perkembangan meliputi:
a.    Kelambatan kematangan
Kesulitan belajar dapat dipandang sebagai kelambatan kematangan fungsi neurologis tertentu. Tiap individu memiliki laju perkembangan yang berbeda-beda, baik fungsi motorik, kognitif, maupun afektif. Konsep keterlambatan kematangan keterampilan pada suatu bahwa banyak kesulitan belajar tercipta karena anak didorong atau dipaksa oleh lingkungan sosial untuk mencapai kinerja akademik sebelum mereka siap untuk itu.
b.    Tahapan-tahapan perkembangan
Tahapan-tahapan perkembangan yang paling erat kaitannya dengan kesulitan belajar di sekolah adalah tahapan-tahapan perkembangan kognitif. Pengertian kognisi mencangkup aspek-aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu yaitu fungsi mental yang mencangkup persepsi, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah (Girgagunarsa, 1981). Perwujudan funsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak dalam menggunakan bahasa dan matematika (Weinmen, 1981).
c.    Implikasi teori perkembangan bagi kesulitan belajar
Suatu implikasi penting dari pendekatan perkembangan kematangan adalah bahwa sekolah hendaknya merancang pengalaman belajar untuk mempertinggi kemantapan perkembangan alami. Jika sekolah membuat tuntutan intelektual yang melebihi tahapan anak, kesulitan belajar mungkin terjadi.anak harus pada tahap kesiapan (readiness) sebelum keterampilan yang diinginkan dipelajari.
2.    Aspek behavioral
Pembelajaran yang bertolak pada teori ini disebut pembelajaran langsung (direct instruction), belajar tuntas (mastery learning), pengajaran terarah (directed teaching), analisi tugas (task analysis), atau pengajaran keterampilan berurutan (sequential skills teaching). Jadi guru hendaknya lebih memusatkan perhatian pad keterampilan-keterampilan akademik yang diperlukanoleh anak daripada memusatkan pada kekurangan yang menghambat anak untuk belajar. Aspek behavioral meliputi:
a.    Analisis perilaku dan pembelajaran langsung
Guru menganalisi tugas-tugas analisis tuga-tugas akademik yang berkenaan dengan berbagai keterampilan yang mendasi penyelesaian tugas-tugas tersebut. Pembelajaran merupakan pemberian bantuan kepada anak untuk menguasai berbagai subketerampilan yang belum dikuasai. Pembelajaran ini disebut pembelajaran langsung (direct instruction).

b.    Tahapan-tahapan belajar
Guru perlu menyadari keberadaan anak dalam tahapan belajar, meliputi:
1)    Perolehan, yaitu anak telah terbuka terhadap pengetahuan baru tetapi belum secara penuh memahaminya.
2)    Kecakapan, yaitu anak mulai memahami pengetahuan atau keterampilan tetapi masih memerlukan banyak latihan.
3)    Pemeliharaan, yaitu anak dapat memelihara atau mempertahankan suatu kinerja taraf tinggi setelah pembelajaran langsung dan ulangan penguatan (reinforcement) dihilangkan.
4)    Generalisasi, yaitu anak telah memiliki dan menginternalisasi pengetahuan yang dipelajarinya sehingga ia dapat menerapkannya dalam berbagai situasi.
c.    Implikasi bagi kesulitan belajar
1)    Pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang efektif
Guru perlu memahami cara melakukan analisi tugas-tugas dari suatu tujuan pembelajaran dan menyusun tugas-tugas tersebut secara berurutan.
2)    Pendekatan pembelajaran langsung dapat digabungkan dengan berbagai pendekatan lain
Jika guru memiliki pengetahuan tentang kekhasan gaya belajar dan kesulitan belajar anak, pembelajaran langsung dapat menjadi lebih efektif jika digabungkan dengan pendekatan yang digabungkan dengan pendekatan yang didasarkan atas gaya belajar anak.
3)    Tahapan belajar anak harus dipertimbangkan 
Guru tidak dapat mengharapkan anak belajar secara sempurna pada awal anak diperkenalkan pada suatu bidang baru.
3.    Aspek kognitif
Psikologi kognitif berkenaan dengan proses belajar, berpikir, dan mengetahui. Melalui kemampuan kognitif memungkinkan manusia mengetahui, menyadari, mengerti, menggunakan abstraksi, menalar, membahas, dan menjadi kreatif. Teori pemrosesan psikologi menganggap bahwa tiap anak berbeda dalam kemampuan mental yang mendasari mereka memproses dan menggunakan informasi, dan bahkan perbedaan tersebut mempengaruhi proses belajar anak.  Menurut Lerner (1988), ada tiga rancangan pembelajaran, yaitu:
a.    Melatih proses yang kurang
Kegunaannya adalah membantu anak membangun dan mengembangkan berbagai fungsi pemrosesan yang lemah melalui latihan.
b.    Mengajar melalui proses yang disukai
Pendekatan ini menggunakan modalitas kekuatan anak sebagai dasar strategi pembelajaran.
c.    Pendekatan kombinasi
Pendekatan ini adalah kombinasi pendekatan sebelumnya. Konsep tersebut memberikan penjelasan yang logis untuk memahami kesulitan belajar tanpa menyalahkan anak yang tidak mau belajar.

C.   FAKTOR-FAKTOR
Menurut Slameto (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar ada dua (diunduh dari http://www.sarjanaku.com /2011/08/pengertian-kesulitan-belajar.html), yaitu :
1.  Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar, yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis.

a.    Faktor fisiologis
Anak yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berbeda belajarnya dengan anak yang dalam kelelahan. Anak-anak yang kurang gizi akan mudah cepat lelah, mudah mengantuk sehingga dalam kegiatan belajarnya mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran.
b.    Faktor psikologis
Adapun yang termasuk faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar antara lain adalah inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan (Slameto, 1999)
1)      Perhatian
Menurut Al-Ghazali (dalam Slameto, 2003), perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal (objek) atau sekumpulan obyek.
2)      Bakat
Menurut Hilgard (dalam Slameto, 2003), bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Menurut Muhibbin (2003) bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
3)      Minat
Menurut Jersild dan Taisch (dalam Nurkencana, 1996), minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi.
4)      Motivasi
Menurut Slameto (2003) motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar. Dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya. 
2.  Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi:
a.    Keluarga, yang meliputi cara orang mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
b.    Sekolah, yang meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c.    Masyarakat, yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001) (diunduh dari http://tarmidi.wordpress.com/2008/02/20/kesulitan-belajar-learning-dissability-dan-masalah-emosi/),yaitu:
1.    Faktor keturunan/bawaan
2.    Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur
3.    Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.
4.    Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.
5.    Infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.
6.    Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.
Sementara Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar (diunduh dari http://tarmidi.wordpress.com /2008/02/20/kesulitan-belajar-learning-dissability-dan-masalah-emosi/) sebagai berikut:
1.    Faktor disfungsi otak
Temuan Harness, Epstein, Dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (learning difficulty) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk underachiever, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk & Ghallager, 1986).
2.    Faktor genetik
Hallgren melakukan penelitian di Swedia dan menemukan bahwa, yang faktor herediter menentukan ketidakmampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang didiagnosa disleksia. Penelitian lain dilakukan oleh hermann (dalam Kirk & Ghallager, 1986) yang meneliti disleksia pada kembar identik dan kembar tidak identik  yang menemukan bahwa frekwensi disleksia pada kembar identik lebih banyak daripada kembar tidak identik sehingga ia menyimpulkan bahwa ketidakmampuan membaca, mengeja dan menulis adalah sesuatu yang diturunkan.
3.    Faktor lingkungan dan malnutrisi
Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan malnutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak. Cruickshank dan Hallahan (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan yang jelas antara malnutrisi dan kesulitan belajar, malnutrisi berat pada usia awal akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan kemampuan belajar serta berkembang anak.
4.    Faktor biokimia
Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman Dan Comfers (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam Kirk & Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pada sebagian anak, diet ini berhasil namun ada juga yang tidak cukup berhasil. Beberapa ahli kemudian menyebutkan bahwa memang ada beberapa anak yang tidak cocok dengan bahan makanan.

D.   KARAKTERISTIK KESULITAN BELAJAR
Kesulitan belajar yang dialami peserta didik dapat berbagai macam gejala, baik gejala kognitif, afektif maupun psikomotor. Blassic dan Jones (1976) mengemukakan karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dapat ditunjukkan dalam karakteristik behavioral, fisikal, bicara dan bahasa, serta kemampuan intelektual dan prestasi belajar (Sugihartono, dkk., 2007).
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (1984) kesulitan belajar dapat diketahui atas dasar:
1.    Grade level, yaitu apabila anak tidak naik kelas sampai dua kali
2.    Age level, terjadi pada anak yang umurnya tidak sesuai dengan kelasnya, dimana ketidaksesuaian ini bekan disebabkan karena keterlambatan masuk sekolah.
3.    Intelligens level, terjadi pada anak yang mengalami under achiever.
4.    General level, terjadi pada anak yang secara umum dapat mencapai prestasi sesuai dengan harapan, tetapi ada beberapa mata pelajaran yang tidak dapat dicapai sesuai dengan kriteria atau sangat rendah.
Lebih lanjut Sumadi Suryabrata menggambarkan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan adanya gangguan aktifitas motorik, emosional, prestasi, persepsi, tidak dapat menangkap arti, membuat dan menangkap simbol, perhatian, tidak dapat memperhatikan dan tidak dapat mengalihkan perhatian, dan gangguan ingatan (Sugihartono, dkk., 2007).
Menurut Moh. Surya (dalam Sugihartono, dkk., 2007) ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar meliputi:
1.    menunjukkan adanya hasil belajar yang rendah
2.    hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
3.    lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar
4.    menunjukkan perilaku yang berkelainan
5.    menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar

E.   CARA MENGATASI
Secara garis besar, langkah-langkah untuk  mengatasi kesulitan belajar (http://www.sarjanaku.com/2011/08/pengertian-kesulitan-belajar.html), dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu :
  1. Pengumpulan data - untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi sehingga perlu diadakan suatu pengamatan langsung yang disebut pengumpulan data.
  2. Pengolahan data - data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat. Semua data harus diolah dan dikaji untuk mengetahui secara pasti sebab-sebab kesulitan belajar yang dialami oleh anak.
  3. Diagnosis, merupakan keputusan mengenai hasil dari pengolahan data. 
  4. Prognosis, merupakan aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapt membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik.
  5. Perlakuan, yang merupakan pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis tersebut.
6.    Evaluasi, dimaksudkan untuk mengetahui apakah perlakuan yang telah diberikan berhasil dengan baik, artinya ada kemampuan atau bahkan gagal sama sekali (Ahmadi & Widodo, 2000).
Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami masalah dalam belajar ini adalah tugas sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik. Belum ada model program yang terbukti evektif untuk semua anak yang memiliki masalah ketidak mampuan beljar ini (Terman, dkk., 1996).
Pemberian layanan bimbingan belajar bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar lebih dikenal dengan pengajaran remedial. Remedial yaitu bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif (perbaikan). Jadi pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta didik. Pengajaran remedial bersifat individual yang diberikan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk mencapai kesuksesan belajar secara optimal (Sugihartono, dkk., 2007).
Metode pengajaran remedial meliputi:
1.    Metode pemberian tugas
2.    Metode diskusi
3.    Metode tanya-jawab
4.    Metode kerja kelompok
5.    Metode tutor sebaya
6.    Metode pengajaran individual


pLanjut ~> PENUTUP

Makalah Kesulitan Belajar

Kesulitan Belajar
Di susun Untuk Memenuhi Tugas mata Kuliah Psikologi Pendidikan


         Di Susun Oleh :

        1. Fahri Kurniawan
 2. Rini Sugesti
 3. Afan Isnaini


      Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta
2012

 I.        PENDAHULUAN

Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Sekitar 5% dari total populasi anak usia sekolah mendapatkan pendidikan khusus karena gangguan belajar mereka. Persentase anak yang di golongkan menderita gangguan belajar semakin meningkat mulai dari kurang 30% dari semua anak yang menerima pendidikan khusus pada 1977-1978 sampai seputar 50% untuk sampai saat ini (Santrock, 2010).
Beberapa pakar mengatakan bahwa peningkatan dramatis ini adalah diagnosis yang buruk dan overidentification. Mereka percaya bahwa guru terkadang terlalu cepat mencap anak yang mengalami sedikit gangguan belajar sebagai anak yang punya masalah ketidak mampuan belajar, padahal gangguan ini sering kali di sebabkan oleh ketidak efektifan guru dalam mengajar dikelas. Pakar lainya mengatakan peningkatan jumlah anak penderita gangguan belajar ini adalah sesuatu yang pada dasarnya (Hallahan, Kauman & Lloyd, 1996).
Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar. Masalah berkesulitan belajar termasuk dalam bidang pendidikan luar biasa. Jika tidak segera ditangani, lambat laun kesulitan belajarnya semakin kompleks, dan akhirnya menjadi masalah bagi pendidikan, karena sumber daya manusia (SDM) yang dipersiapkan menjadi tidak tercapai. Untuk itu perlu adanya upaya penanganan siswa berkesulitan belajar yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.


Untuk selanjutnya silahkan klik link ini ~> PEMBAHASAN
 
© Copyright 2010 _Fahri kurniawan_
Theme by Fahri Kurniawan