"Selamat Datang Di Fahriikurniiawan.blogspot.com,,,Mari Berbagi Inspirasi dan Pengalaman"

Senin, 04 Juni 2012

RASA AGAMA PADA ANAK-ANAK DAN REMAJA


TUGAS MINI RISET
“RASA AGAMA PADA ANAK-ANAK DAN REMAJA
Disajikan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Agama
Dosen pengampu : Dra. HJ. Susilaningsih .MA


Disusun Oleh :
Fahri kurniawan
10710036

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA 
                                                                    2012
 
I.          PENDAHULUAN

Agama hadir dalam penampakan yang bermacam-macam. Nabi Muhammad mendefinisikan adama sebagai perilaku yang baik. Agama dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain sebagai inspirasi untuk kegiatan revolusioner, sebagai perjalanan spiritual, untuk mencapai tingkat kesadaran yang tinggi, dan lain sebagainya sesuai kondisi penganut agama tertentu beserta pandangan-pandangannya.
Rasa agama merupakan suatu potensi yang telah ada pada masing-masing individu. Rasa agama itu dipupuk dari masa kecil hingga mulai berfungsinya rasa itu pada akhir masa anak-anak menuju masa remaja awal. Perkembangan pada usia remaja mengalami banyak gejolak yang pada akhirnya menggoncangkan jiwa dan keyakinannya. Pertumbuhan secara fisik yang begitu menonjol ternyata diikuti oleh perkembangan pemikiran yang membuat dalam banyak hal remaja mengalami peningkatan cukup signifikan. Akan tetapi ada pula yang mengalami penurunan grafik yang terjadi pada diri mereka, salah satunya adalah rasa keber-agamaannya.
Penurunan rasa terhadap keyakinan yang terjadi inilah yang kemudian menjadikan adanya keragu-raguan terhadap ajaran agama. Tentunya juga karena di pengaruhi pula oleh pemikiran pada usia remaja yang meningkat secara signifikan dibandingkan pada saat masih anak-anak.
Pemikiran-pemikiran kritis dan ilmiah yang tumbuh pada otak remaja, membuat remaja berusaha untuk mencari kebebasan. Kebebasan berpikir, kebebasan memilih, kebebasan berkeyakinan, dan juga kebebasan-kebebasan yang lain. Inti dari pencarian kebebasan ini adalah untuk mencari jati diri dan usaha untuk menunjukkan siapakah dirinya di depan orang lain.
Yang amat disayangkan adalah metode pengajaran rasa keagamaan pada saat masih anak-anak (dikeluarga ataupun sekolah) yang berkembang saat ini masih terkesan mengabaikan pemikiran masa remaja ini, sehingga keyakinan terhadap rasa beragama pada usia remaja sering dikritisi oleh mereka. Yang pada akhirnya menimbulkan keraguan beragama pada diri mereka.
Banyak yang mengaku beragama, akan tetapi pengakuan tersebut tidak pernah dilaksanakan dengan menjalankan ajaran agama yang diakuinya tersebut. Padahal jika dilperhatikan mereka yang tidak melaksanakan ajaran agama tersebut, pada masa anak-anaknya, mereka adalah anak yang rajin ke gereja ataupun masjid ataupun tempat-tempat ibadah yang lain. Ini disebabkan karena adanya keraguan beragama pada diri remaja.

II.          TEORI
1.      PERKEMBANGAN RASA AGAMA
A.       Perkembangan Rasa Agama Usia Anak
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development Of Religion On Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak  itu melalui tiga tingktan, yaitu;
1)        The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimuali pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa kini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi yang diliputi oleh dongeng-dongeng.
2)        The Realistic Stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini sejak anak masuk Sekolah Dasar (SD) hingga ke usia adolensen. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak dapat didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam ligkungan mereka.
3)        The Individual Stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu;
a.    Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal terserbut disebabkan oleh pengaruh luar.
b.    Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (peroranngan).
c.    Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor interen, yaitu perkembangan usia dan faktor eksteren berupa pengaruh luar yang dialaminya.

B.       Perkembangan Rasa Agama Usia Remaja
Dalam  pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki masa Progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah:
1.        Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanak sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.

2.        Perkembangan perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati berkehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasan super, remaja lebih terperosok ke arah tindakan seksual yang negative

3.        Pertimbangan social
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mareka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.

4.        Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteks. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja juga mencakupi:
a.         Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
b.        Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c.         Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
5.        Sikap dan minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaaan masa kecil dan lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).

2.      RELIGIOUS DOUBT
Keraguan dalam rasa agama (religious doubt) itu tidak muncul dengan begitu saja namun muncul dari beberapa faktor. Dan  faktor yang menyebabkannya yaitu:
a.    Kemampuan kognisi remaja untuk berfikir secara abstrak dan maknawi.
b.    Religious storage
c.    Dogmatic teaching
d.   Religious teaching
e.    Perbedaan agama
f.     Mempertetangkan ilmu dan agama
g.    Imorrality
h.    Individual different
Sedangkan cara-cara yang perlu ditempuh untuk keluar dari keragu-raguan dalam agama itu adalah:
a.    Rasionalisasi konsep dan sikap di dalam beragama.
b.    Penolakan konsep-konsep agama yang telah tertanam.
c.    Penyesuaian konsep agama pada masa anak-anak dengan situasi dan kondisi yang baru.
Adapun dampak yang bisa ditimbulkan dari religious doubt itu sendiri dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.    Berpandangan skeptis terhadap bentuk-bentuk keagamaan.
b.    Meninggalkan tugas-tugas keagamaan.
c.    Konfrontasi pengetahuan dan agama
d.   Religious conversion( perubahan sikap keagamaan yang begitu mencolok).


3.      RELIGIOUS CONVERSION
Konversi agama menurut etimologi, konversi berasal dari kata “Conversio” yang berarti : tobat, pindah, dan berubah (agama). Dan dalam bahasa Inggris disebut Conversion yang mengandung arti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (Change From One State, or From One Religion, to Another). Maka dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian : bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama (menjadi paderi).

FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KONVERSI AGAMA
William James mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya konversi agama antara lain :
a.    Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
b.    Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses).
c.    Konversi agama dapat terjadi oleh 2 faktor intern dan faktor ekstern.

1. Faktor Intern
• Kepribadian
W. James menemukan bahwa, tipe melankolis yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.
• Pembawaan
Menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama, ini dapat dilihat urutan kelahiran. Anak sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stres jiwa. Kondisi tersebut juga bisa mempengaruhi terjadinya konversi agama.

2. Faktor Ekstern
• Keluarga
Terjadinya ketidakserasian, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, tidak harmonisnya keluarga serta kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat kondisi tersebut bisa saja menyebabkan seseorang mengalami tekanan batin sehingga terjadi konversi agama dalam usahanya untuk mencari hal-hal baru dalam rangka meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya.
• Lingkungan
Seseorang yang tinggal di suatu tempat dan merasa tersingkir dari kehidupan di suatu tempat dan merasa hidup sebatang kara. Pada saat ini dia mendambakan ketenangan batin dan tempat untuk bergantung agar kegelisahan batinnya bisa hilang.
                     • Perubahan Status
Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang dapat menyebabkan terjadinya konversi agama. Apalagi perubahan itu terjadi secara mendadak. Seperti perceraian atau kawin dengan orang yang berlainan agama.
• Kemiskinan
Masyarakat yang awam cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik.

III.          KASUS
Melihat Dalam mini riset ini Kasus yang saya ambil adalah dari pengalaman keagamaan saya sendiri dimana pengalaman keagamaan saat saya kecil dimana waktu masih kecil saya cukup beruntungan karena saya lahir dari keluarga yang paham tentang agama yang saya anut sampai saat ini. Dari kecil saya sudah di tanamkan tentang berbagai macam agama oleh orang tua saya. Karena di sisi lain rumah saya juga di jadikan tempat untuk mengaji bersama sehingga secara langsung banyak hal-hal tentang agama yang saya dapat. Mulai dari membaca al-quran, hafalan surat pendek, tata cara sholat dan berwudhu dan banyak hal yang saya dapat. Selain itu orang tua juga membekali saya dengan pengetahuan keagamaan yang membantu saya untuk menjalani hidup ini. Bahwa hidup itu adalah dari tuhan dan ketika akhir nanti kita kembali kepada tuhan. Ketika merawat saya sejak kecil kedua orang tua saya sangat sabar dalam mendidik saya beliau tidak pernah mengeluh dengan tingkah saya dan kelakuan saya, beliau sangat sabar dalam mendidik dan membesarkan saya. Dan hal itu yang membuat saya sangat patuh dengan orang tua. Karena banyak hal yang saya dapatkan, mereka juga mengajarkan saya tentang sopan santun dan menghagai agami lain. Itu yang membuat saya patuh kepada orang tua saya dan selalu berada di dekat mereka, saya tidak peduli dengan pendapat orang yang mengatakan “anak mami” tapi dari merekalah saya menegrti tentang ajaran hidup ini dan kemana saya harus mengadu ketika menghadapi cobaan hidup yang cukup berat. Cara mendidik orang tua tidak hanya sampai di situ, agar pemahaman keagamaan yang saya dalami mendapat hasil yang lebih baik. Semenjak masih duduk dibangku taman kanak-kanak orangtua sudah menyurh saya untuk mengaji di mushola NURUL IKHLAS di Desa Bulu Trimulyo Jetis Bantul, karena selain di rumah saya juga mendapat ilmu tentang keagamaan saya dari Mushola NURUL IKHLAS dan banyak hal yang saya dapat dari situ. Mulai dari mengaji Iqro, Juz-ama dan Al-Quran selain itu di sela sela mengaji saya juga mendapat materi mengaji yang kala itu di sebut pesholatan di mana dalam mengaji itu saya di ajarkan bagaimana car wudhu, sholat, bacaan apa saja yang harus di baca, bacaan surat surat pendek, dan cara bersholawat.
Hal diataslah yang membuat saya lebih bersemangat untuk menuntut ilmu yang lebih banyak lagi, dan secara tidak langsung membuat saya rajin untuk berangkat mengaji. Bahkan hampir setiap kali ada jadwal mengaji saya selalu berangkat. Bahkan karena semangatnya mehaji di mulai habis maghrib pukul 5 sore saya sudah berangkat. Sampai saat ini saya masih heran kenapa waktu kecil saya bisa se-semangat itu untuk menuntuk ilmu agama.
Setelah lulus SD saya tetap bersemangat untuk mengaji saya juga aktif di SMP dalam kegiatan keagamaan seperti ekstra membaca Al-Quran atau bis adi sebut juga Qiroah dan juga kegiatan yang berbau agama. Dan selain itu di rumah juga saya masih sempat ikut mengaji di rumah bersama tema teman sebaya saya dan itu juga sampai saya kelas 3 SMP dan selama itu saya aktiv dalam mengaji dan ketika bulan ramadhan tiba saya selalu ke mushola NURUL IKHLAS untuk mengikut TADARUS Al-Quran bahkat sesekali saya sampai malam ketika Bertadarus bersama teman teman sebaya saya dan karena takut pulang maka kami pun bermalam di masjid. Dan ketika menjelang sahur kami berkeliling untuk membangunkan orang orang untuk sahur sebelum berpuasa.
Saya juga ingat bagaimana orang tua memarahi saya ketika saya tidak mengaji dan hanya bermain, maka saya akan di cari dan di marahi di rumah, dahulu saya sempat merasa jengkel dengan itu, tapi kini saya merasakan hasil dari didikan kedua orang tua saya, dan saya merasa bersalah kenapa saat itu tidak menurut dengan perintah kedua orang tua saya.
Dan semenjak lulus dari SMP dan masuk ke SMA atau ke dunia remaja. Saya mulai sedikit meninggalkan kegitana saya waktu masih kecil itu. Selain banyak asik main dengan saya dan juga terkadang lupa untuk beribadah karena keasikan bermain. Masa remaja adalah masa dimana saya mulai mencari didi saya yang sebenarnya, sehingga pada waktu itu hanya hala-hal yang menyenangkan saja yang saya lakukan, untuk beribadah saja saya jadi malas malasan, seperti tidak sholat subuh dan hanya sholad dhur itu juga berjamaah di moshola sekolah setelah itu melalaikan sholat ashar tetapi maghrib dan isya mengejakan sholat karena berjamaah di mushola. Terkadang mengaji saja saya mulai angin-anginan. Sempat saya juga berfikir dan perasaan itu selalu mencul di dalam benak saya, rasanya sesekali, tidak melakukan sesuatu hal yang melanggar perintah agama misalnya saja melakukan perbuatan yang sangat buruk dan pernah juga meninggalakan shalat. Itu sempat terjadi selama 2 tahun, dan memasuki kelas 3 SMA saya mulai berbenah karena mersa takut selain itu juga akan menghadapi UAN. Dan saya merasa heran sampai saat ini. Apakah semua remaja akan mengalami sama seperti apa yang saya rasakan.
Namun berkat penanaman agama yang telah begitu kuat dari orang tua dan bimbingan dari guru-guru Mengaji saya di MUSHOLA NURUL IKHLAS serta saya sendiri juga berusaha keras menghilangkan pikiran-pikiran yang seakan-akan sangat bertolak belakang dengan apa yang telah tertanam di dalam hati. Di tambah lagi saat ini saya belajar di Sekolah yang cukup kuat dalam memahami agama. Dan pada akhirnya usaha-usaha yang telah saya lakukan lambat laun mulai menunjukkan hasil yang nyata. Justru setelah terjadi konflik itu dapat membuat hati saya semakin yakin dengan kepercayaan yang selama ini ku yakini. Dan saya akan berusah untuk selalu menanamkan dalam diri saya tentang rasa agama yang harus saya anut sebagai jalan menuju hidup saya.

IV.          ANALISA
Dari analisis kasus tentang rasa agama. Dimana rasa agama akan mulai bekerja jika seseorang telah memasuki masa remaja, namun jika hal itu dibarengi dengan usaha orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan itu sejak dini. Maka menurut Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan), ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak  itu melalui tiga tingktan, yaitu;
1.      The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng) Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Sehingga anak dalam memahami agama masih berupa konsep fantastik yang diliputi oleh dongeng-dongeng. Itu juga mengingatkan saya dimana sewaktu kecil saya sering di ceritakan mengenai kisah kisah nabi yang membuat saya mulai memahamai tentang agama, ini membuktikan pada masa ini fantasi atau dongenglah yang cukup berpengaruh dalam memberikan pemahaman mengenai agama kepada anak-anak.

2.      The Realistic Stage (tingkat kenyataan) Pada tingkat ini sejak anak masuk Sekolah Dasar (SD) hingga ke usia adolensen. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Ini terjadi juga bagaimana anak-anak SD sudah mulai rajin mengikuti kegiatan TPA dan Mengaji di Majid dan Mushola dengan melihat orang yang lebih dewasa yang mereka contoh yaitu guru mengaji mereka, dan ketika mereka sudah yakin atau suka dengan Guru atau contoh mereka maka anak-anak itu akan semakin giat dalam mengikuti kegiatan keagamaan.

3.      The Individual Stage (tingkat individu) Pada tingkat ini anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu; ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif, yaitu keyakina yang di akibatkan fantasi atau dongen waktu mereka kecil, ke-Tuhanan yang lebih murni yaitu lebih bersifat kepada anak itu sendiri bagaimana anak itu memahami agama yang dia antu melalui pemahaman anak itu sendiri, dan yang terakhir adalah ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Ini merupakan pemahaman yang dimiliki anak sejak usia dini dimana anak ini memahami agam secara lebih mendalam dan mengakibatkan anak ini memaham agama secara luas.
Ketiga hal itu tidak akan terjadi jika penanaman dan pendidikan tentang rasa agama dilakukan semenjak dini. Dengan di ajarkanya pemahaman tentang agama itu sejak dini maka akan menghasilkan suatu rasa keagamaan yang begitu kuat. Dan hal itu yang saya alami sendiri denga mengamati kondisi lingkungan sekitar.
Pada Usia remaja perkembangan rasa agama anak akan mulai berbeda Dalam  pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki masa Progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Dalam hal ini Keraguan dalam rasa agama atau yang lebih di sebut dengan (religious doubt) akan menjadi pemahaman pemikiran yang sangat mendalam pada masa remaja ini. Keraguan dalam rasa agama ini tidak muncul dengan begitu saja  ada beberapa faktor yang cukup mempengaruhi dan faktor yang menyebabkannya yaitu:
a.       Kemampuan kognisi remaja untuk berfikir secara abstrak dan maknawi.
b.      Religious storage
c.       Dogmatic teaching
d.      Religious teaching
e.       Perbedaan agama
f.       Mempertetangkan ilmu dan agama
g.      Imorrality
h.      Individual different

Maka dari kasus yang saya amati di atas sama seperti yang saya alami dimana saya didalam hati saya mulai muncul suatu perasaan ragu-ragu tentang keyakinan yang dianut. Itu saya rasakan saat saya mulai memasuki masa SMA dimana pelajaran yang saya terimas secara tidak begitu saya pahami masuk dalam pikiran saya dan mulai saat itu saya berfikir lebih nyata atau rasional. Salah satu yang membuat saya berfikir nyata ketika saya menerima pelajaran biologi dimana Darwin menerbitkan The Origin of Species pada 1859. buku ini katanya sempat mengguncang dunia ilmiah dan agama. Kehidupan tidak berkembang seperti yang di ceritakan waktu saya kecil. Dalam pelajaran itu manusia bukan lagi keturunan nabi Adam dan siti hawa yang di tempatkan di surga. Ia di turunkan dari langit. Ia turunan dari monyet. Dan mulai saat itu cara dan pola fikir saya berbeda.  Selain itu hal tersebut juga mengakibatkan beberapa hal seperti Berpandangan skeptis terhadap bentuk-bentuk keagamaan, Meninggalkan tugas-tugas keagamaan, Konfrontasi pengetahuan dan agama, Religious conversion( perubahan sikap keagamaan yang begitu mencolok). Itu yang saya alami sendiri dimana waktu mulai memasuki kelas satu dan dua saya mulai meninggalkan kegiatan keberagamaan saya seperti menginggalkan sholat, karena keasikan dalam bermain dan menemukan hal yang lebih menarik saya mulai menganggap hal-hal yang berbau keagamaan itu tidak mengasikan dan mengakibatkan perubahan yang sangat tinggi dimana sewaktu kecil rajib beribadah dan ketika memasuki remaja mulai menggalkanya.
Namun itu semua dapat saya lewati dengan baik, saya mulai berfikir lebih baik lagi, mengingat kebali apa yang saya dapat sewaktu kecil dimana ketika kita mendapat masalah maka jalan untuk kembali adalah ke pada uhan memohon dam memintalah petunjuk kepadanya. Saya mulai memikirkan kemabai bahwa masa ini sudah berbeda masalah yang saya hadapi pada saat remaja harus di selesaikan dengan penyelesaian yang sesuai dengan usia saya, dan itu tidak akan dapat selesai jika di selesaikan dengan pemecahan masalah ketika saya masih kecil.
Dan mulai saat itu saya lebih sering mendekatkan diri kepada tuhan, agar segala yang saya hadapi di kemudian hari lebih bisa saya hadapi dengan baik, apalagi dengan kegiatan belajar saya saat ini yang lebih mendukung dengan mengutamakan setudi isalam dalam pengembangan psikologis manusia membuat saya lebih banyak belajar apa saja hal-hal yang belum saya pahami dalam hidup yang saya jalani ini.

V.          KESIMPULAN
Dari kasus yang saya teliti ini maka saya akan mencoba menyimpulkan. Dimana dalam penanaman rasa agama ini perlunya pembimbingan dari orang tua yang lebih dimana dimulai dari sejak dini, agar kelak anak dapat memahami setiap permasalahan yang dia hadapi harus di selesaikan sesuai dengan usianya. Maka di sini peran keluarga merupakan hal yang begitu penting karena pada masa ini adalah untuk pertama kalinya seseorang mendapat penanaman dasar-dasar nilai keagamaan.
Selain keluarga, lingkungan dan sekolah sangat berpengaruh, lingkungan yang baik akan dapat membimbing anak lebih baik dalam mendasari rasa beragama yang dia pelajari, sehingga dalam perjalanannya menuju kedewasaan anak memiliki banyak bekal untuk dia jadikan sebagai landasan diri.
Masa remaja merupakan masa yang sangat rentan dengan keraguan dalam beragama, masa ini sangat banyak terjadi gejolak dalam diri remaja selain sedang dalam proses mencari jati diri, remaja masa ini juga sangat mudah terpengaruh teman dan lingkungan. Untuk itu bimbingan orang tua harus ekstra karena dengan bimbingan ini, nanti anak yang tekun atau anak yang malas bisa terlihat ketika memecahkan masalah dewasa kelak.

Daftar Pustaka

Jalaluddin Rakhmat. 2003. Psikologi agama. Sebuah Pengantar. Bandung. PT Mizan Pustaka




Kamis, 24 Mei 2012

Makalah Kesulitan Belajar ~> Penutup


                                                                                                             I.        PENUTUP

A.   KESIMPULAN
Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar. Masalah berkesulitan belajar termasuk dalam bidang pendidikan luar biasa. Jika tidak segera ditangani, lambat laun kesulitan belajarnya semakin kompleks, dan akhirnya menjadi masalah bagi pendidikan, karena sumber daya manusia (SDM) yang dipersiapkan menjadi tidak tercapai. Untuk itu perlu adanya upaya penanganan siswa berkesulitan belajar yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Jadi dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.

B.   DAFTAR PUSTAKA
Santrock, Jhon W. 2010. Psikologi Pendidikan edisi II. Jakarta:
Kencana Media Group
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan
Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Yasin, Sanjaya. 2011. Pengertian Kesulitan Belajar. (Online),
belajar.html, diakses 22 April 2012)
Tarmidi. 2008. Kesulitan Belajar (Learning Dissability) dan Masalah 
diakses 23 Mei 2012

Makalah Kesulitan Belajar ~> Pembahasan


      I.        PEMBAHASAN

A.   PENGERTIAN
Berikut ini adalah permasalahan belajar peserta didik agar dapat memberikan gambaran tentang perbedaan pada permasalahan belajar  menurut Warkitri, dkk. (dalam Sugihartono, dkk., 2007) meliputi:
1.    Kekacauan belajar (Learning Disorder) yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Anak yang mengalami kekacauan belajar potensi dasarnya tidak di ragukan, akan tetapi belajar anak terhambat oleh adanya reaksi-reaksi belajar yang bertentangan, sehingga anak tidak dapat mengusai bahan yang di pelajari dengan baik. Jadi dalam belajar anak mengalami kebingungan untuk memahami bahan belajar.
2.    Ketidakmampuan belajar (Learning Disabiliti) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang dicapai berada di bawah potensi intelektualnya
3.    Learning Disfunctions yaitu kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukan adanya subnormal mental, gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain. misalnya anak sudah belajar degan tekun tetapi tidak mampu menguasai bahan belajar dengan baik.
4.    Under Achiever, adalah suatu kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah. Dalam hal ini prestasi belajar yang dicapai anak tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki.
5.    Lambat belajar (Slow Learner) adalah kesulitan belajar yang di sebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya, sehingga setiap melakukan kegiatan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang sama.
Jadi salah satu permasalahan belajar adalah kesulitan belajar (learning disability). Menurut Hallahan, Kauman, & Lloyd (1985) kesulitan belajar (learning disabilty) adalah gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencangkup pemahaman dan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencangkup kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak hanya mencakup anak-anak yang mengalami problem belajar yang penyebab utamanya berasal dari hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi (Abdurrahman, 2003).
Kesulitan belajar sering kali mencangkup kondisi yang bisa jadi berupa adanya masalah dalam mendengar, berkonsentrasi, berbicara, membaca, menulis, menalar, berhitung, atau problem interaksi sosial. Jadi, anak yang memiliki masalah gangguan belajar boleh jadi memiliki profil yang berbeda-beda (Henly, Ramsey, & Algozzine, 1999). Gangguan belajar mungkin berhubungan dengan kondisi medis seperti fetal alkohol syndrome (American Psychiatric Association, 1994). Gangguan belajar juga terjadi bersama dengan lainya, seperti gangguan komunikasi dan gangguan emosional (Poloway dkk., 1997).
Kendati tingkat gangguan belajar itu bervariasi, dampak dari masalah kesulitan belajar ini terlihat jelas dan menetap (Bender. 1998; Raymond, 2000; Wong & Donahue, 2002). Kebanyakan problem ketidak mampuan belajar ini bertahan lama bahkan seumur hidup. Anak yang mengalami gangguan belajar yang diajar di kelas reguler tanpa dukungan ekstensif jarang yang mencapai level kompetensi yang setara dengan anak yang tidak punya masalah gangguan belajar (Hocutt, 1996). Akan tetapi walapun mereka memiliki program ini, banyak anak yang menderita gangguan belajar tumbuh dan menjalani hidup normal dan melakukan pekerjaan yang produktif (Pueschel, dkk., 1995).
Jadi dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.

B.   ASPEK
Aspek psikologi dari kesulitan belajar (Abdurrahman, 2003) meliputi:
1.    Aspek perkembangan
Kesulitan belajar disebabkan oleh faktor kematangan. Mempercepat atau memperlambat proses perkembangan dapat menimbulkan masalah belajar. Aspek perkembangan meliputi:
a.    Kelambatan kematangan
Kesulitan belajar dapat dipandang sebagai kelambatan kematangan fungsi neurologis tertentu. Tiap individu memiliki laju perkembangan yang berbeda-beda, baik fungsi motorik, kognitif, maupun afektif. Konsep keterlambatan kematangan keterampilan pada suatu bahwa banyak kesulitan belajar tercipta karena anak didorong atau dipaksa oleh lingkungan sosial untuk mencapai kinerja akademik sebelum mereka siap untuk itu.
b.    Tahapan-tahapan perkembangan
Tahapan-tahapan perkembangan yang paling erat kaitannya dengan kesulitan belajar di sekolah adalah tahapan-tahapan perkembangan kognitif. Pengertian kognisi mencangkup aspek-aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu yaitu fungsi mental yang mencangkup persepsi, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah (Girgagunarsa, 1981). Perwujudan funsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak dalam menggunakan bahasa dan matematika (Weinmen, 1981).
c.    Implikasi teori perkembangan bagi kesulitan belajar
Suatu implikasi penting dari pendekatan perkembangan kematangan adalah bahwa sekolah hendaknya merancang pengalaman belajar untuk mempertinggi kemantapan perkembangan alami. Jika sekolah membuat tuntutan intelektual yang melebihi tahapan anak, kesulitan belajar mungkin terjadi.anak harus pada tahap kesiapan (readiness) sebelum keterampilan yang diinginkan dipelajari.
2.    Aspek behavioral
Pembelajaran yang bertolak pada teori ini disebut pembelajaran langsung (direct instruction), belajar tuntas (mastery learning), pengajaran terarah (directed teaching), analisi tugas (task analysis), atau pengajaran keterampilan berurutan (sequential skills teaching). Jadi guru hendaknya lebih memusatkan perhatian pad keterampilan-keterampilan akademik yang diperlukanoleh anak daripada memusatkan pada kekurangan yang menghambat anak untuk belajar. Aspek behavioral meliputi:
a.    Analisis perilaku dan pembelajaran langsung
Guru menganalisi tugas-tugas analisis tuga-tugas akademik yang berkenaan dengan berbagai keterampilan yang mendasi penyelesaian tugas-tugas tersebut. Pembelajaran merupakan pemberian bantuan kepada anak untuk menguasai berbagai subketerampilan yang belum dikuasai. Pembelajaran ini disebut pembelajaran langsung (direct instruction).

b.    Tahapan-tahapan belajar
Guru perlu menyadari keberadaan anak dalam tahapan belajar, meliputi:
1)    Perolehan, yaitu anak telah terbuka terhadap pengetahuan baru tetapi belum secara penuh memahaminya.
2)    Kecakapan, yaitu anak mulai memahami pengetahuan atau keterampilan tetapi masih memerlukan banyak latihan.
3)    Pemeliharaan, yaitu anak dapat memelihara atau mempertahankan suatu kinerja taraf tinggi setelah pembelajaran langsung dan ulangan penguatan (reinforcement) dihilangkan.
4)    Generalisasi, yaitu anak telah memiliki dan menginternalisasi pengetahuan yang dipelajarinya sehingga ia dapat menerapkannya dalam berbagai situasi.
c.    Implikasi bagi kesulitan belajar
1)    Pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang efektif
Guru perlu memahami cara melakukan analisi tugas-tugas dari suatu tujuan pembelajaran dan menyusun tugas-tugas tersebut secara berurutan.
2)    Pendekatan pembelajaran langsung dapat digabungkan dengan berbagai pendekatan lain
Jika guru memiliki pengetahuan tentang kekhasan gaya belajar dan kesulitan belajar anak, pembelajaran langsung dapat menjadi lebih efektif jika digabungkan dengan pendekatan yang digabungkan dengan pendekatan yang didasarkan atas gaya belajar anak.
3)    Tahapan belajar anak harus dipertimbangkan 
Guru tidak dapat mengharapkan anak belajar secara sempurna pada awal anak diperkenalkan pada suatu bidang baru.
3.    Aspek kognitif
Psikologi kognitif berkenaan dengan proses belajar, berpikir, dan mengetahui. Melalui kemampuan kognitif memungkinkan manusia mengetahui, menyadari, mengerti, menggunakan abstraksi, menalar, membahas, dan menjadi kreatif. Teori pemrosesan psikologi menganggap bahwa tiap anak berbeda dalam kemampuan mental yang mendasari mereka memproses dan menggunakan informasi, dan bahkan perbedaan tersebut mempengaruhi proses belajar anak.  Menurut Lerner (1988), ada tiga rancangan pembelajaran, yaitu:
a.    Melatih proses yang kurang
Kegunaannya adalah membantu anak membangun dan mengembangkan berbagai fungsi pemrosesan yang lemah melalui latihan.
b.    Mengajar melalui proses yang disukai
Pendekatan ini menggunakan modalitas kekuatan anak sebagai dasar strategi pembelajaran.
c.    Pendekatan kombinasi
Pendekatan ini adalah kombinasi pendekatan sebelumnya. Konsep tersebut memberikan penjelasan yang logis untuk memahami kesulitan belajar tanpa menyalahkan anak yang tidak mau belajar.

C.   FAKTOR-FAKTOR
Menurut Slameto (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar ada dua (diunduh dari http://www.sarjanaku.com /2011/08/pengertian-kesulitan-belajar.html), yaitu :
1.  Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar, yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis.

a.    Faktor fisiologis
Anak yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berbeda belajarnya dengan anak yang dalam kelelahan. Anak-anak yang kurang gizi akan mudah cepat lelah, mudah mengantuk sehingga dalam kegiatan belajarnya mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran.
b.    Faktor psikologis
Adapun yang termasuk faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar antara lain adalah inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan (Slameto, 1999)
1)      Perhatian
Menurut Al-Ghazali (dalam Slameto, 2003), perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal (objek) atau sekumpulan obyek.
2)      Bakat
Menurut Hilgard (dalam Slameto, 2003), bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Menurut Muhibbin (2003) bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
3)      Minat
Menurut Jersild dan Taisch (dalam Nurkencana, 1996), minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi.
4)      Motivasi
Menurut Slameto (2003) motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar. Dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya. 
2.  Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi:
a.    Keluarga, yang meliputi cara orang mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
b.    Sekolah, yang meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c.    Masyarakat, yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001) (diunduh dari http://tarmidi.wordpress.com/2008/02/20/kesulitan-belajar-learning-dissability-dan-masalah-emosi/),yaitu:
1.    Faktor keturunan/bawaan
2.    Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur
3.    Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.
4.    Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.
5.    Infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.
6.    Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.
Sementara Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar (diunduh dari http://tarmidi.wordpress.com /2008/02/20/kesulitan-belajar-learning-dissability-dan-masalah-emosi/) sebagai berikut:
1.    Faktor disfungsi otak
Temuan Harness, Epstein, Dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (learning difficulty) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk underachiever, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk & Ghallager, 1986).
2.    Faktor genetik
Hallgren melakukan penelitian di Swedia dan menemukan bahwa, yang faktor herediter menentukan ketidakmampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang didiagnosa disleksia. Penelitian lain dilakukan oleh hermann (dalam Kirk & Ghallager, 1986) yang meneliti disleksia pada kembar identik dan kembar tidak identik  yang menemukan bahwa frekwensi disleksia pada kembar identik lebih banyak daripada kembar tidak identik sehingga ia menyimpulkan bahwa ketidakmampuan membaca, mengeja dan menulis adalah sesuatu yang diturunkan.
3.    Faktor lingkungan dan malnutrisi
Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan malnutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak. Cruickshank dan Hallahan (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan yang jelas antara malnutrisi dan kesulitan belajar, malnutrisi berat pada usia awal akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan kemampuan belajar serta berkembang anak.
4.    Faktor biokimia
Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman Dan Comfers (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam Kirk & Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pada sebagian anak, diet ini berhasil namun ada juga yang tidak cukup berhasil. Beberapa ahli kemudian menyebutkan bahwa memang ada beberapa anak yang tidak cocok dengan bahan makanan.

D.   KARAKTERISTIK KESULITAN BELAJAR
Kesulitan belajar yang dialami peserta didik dapat berbagai macam gejala, baik gejala kognitif, afektif maupun psikomotor. Blassic dan Jones (1976) mengemukakan karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dapat ditunjukkan dalam karakteristik behavioral, fisikal, bicara dan bahasa, serta kemampuan intelektual dan prestasi belajar (Sugihartono, dkk., 2007).
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (1984) kesulitan belajar dapat diketahui atas dasar:
1.    Grade level, yaitu apabila anak tidak naik kelas sampai dua kali
2.    Age level, terjadi pada anak yang umurnya tidak sesuai dengan kelasnya, dimana ketidaksesuaian ini bekan disebabkan karena keterlambatan masuk sekolah.
3.    Intelligens level, terjadi pada anak yang mengalami under achiever.
4.    General level, terjadi pada anak yang secara umum dapat mencapai prestasi sesuai dengan harapan, tetapi ada beberapa mata pelajaran yang tidak dapat dicapai sesuai dengan kriteria atau sangat rendah.
Lebih lanjut Sumadi Suryabrata menggambarkan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan adanya gangguan aktifitas motorik, emosional, prestasi, persepsi, tidak dapat menangkap arti, membuat dan menangkap simbol, perhatian, tidak dapat memperhatikan dan tidak dapat mengalihkan perhatian, dan gangguan ingatan (Sugihartono, dkk., 2007).
Menurut Moh. Surya (dalam Sugihartono, dkk., 2007) ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar meliputi:
1.    menunjukkan adanya hasil belajar yang rendah
2.    hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
3.    lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar
4.    menunjukkan perilaku yang berkelainan
5.    menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar

E.   CARA MENGATASI
Secara garis besar, langkah-langkah untuk  mengatasi kesulitan belajar (http://www.sarjanaku.com/2011/08/pengertian-kesulitan-belajar.html), dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu :
  1. Pengumpulan data - untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi sehingga perlu diadakan suatu pengamatan langsung yang disebut pengumpulan data.
  2. Pengolahan data - data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat. Semua data harus diolah dan dikaji untuk mengetahui secara pasti sebab-sebab kesulitan belajar yang dialami oleh anak.
  3. Diagnosis, merupakan keputusan mengenai hasil dari pengolahan data. 
  4. Prognosis, merupakan aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapt membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik.
  5. Perlakuan, yang merupakan pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis tersebut.
6.    Evaluasi, dimaksudkan untuk mengetahui apakah perlakuan yang telah diberikan berhasil dengan baik, artinya ada kemampuan atau bahkan gagal sama sekali (Ahmadi & Widodo, 2000).
Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami masalah dalam belajar ini adalah tugas sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik. Belum ada model program yang terbukti evektif untuk semua anak yang memiliki masalah ketidak mampuan beljar ini (Terman, dkk., 1996).
Pemberian layanan bimbingan belajar bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar lebih dikenal dengan pengajaran remedial. Remedial yaitu bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif (perbaikan). Jadi pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta didik. Pengajaran remedial bersifat individual yang diberikan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk mencapai kesuksesan belajar secara optimal (Sugihartono, dkk., 2007).
Metode pengajaran remedial meliputi:
1.    Metode pemberian tugas
2.    Metode diskusi
3.    Metode tanya-jawab
4.    Metode kerja kelompok
5.    Metode tutor sebaya
6.    Metode pengajaran individual


pLanjut ~> PENUTUP

Makalah Kesulitan Belajar

Kesulitan Belajar
Di susun Untuk Memenuhi Tugas mata Kuliah Psikologi Pendidikan


         Di Susun Oleh :

        1. Fahri Kurniawan
 2. Rini Sugesti
 3. Afan Isnaini


      Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta
2012

 I.        PENDAHULUAN

Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Sekitar 5% dari total populasi anak usia sekolah mendapatkan pendidikan khusus karena gangguan belajar mereka. Persentase anak yang di golongkan menderita gangguan belajar semakin meningkat mulai dari kurang 30% dari semua anak yang menerima pendidikan khusus pada 1977-1978 sampai seputar 50% untuk sampai saat ini (Santrock, 2010).
Beberapa pakar mengatakan bahwa peningkatan dramatis ini adalah diagnosis yang buruk dan overidentification. Mereka percaya bahwa guru terkadang terlalu cepat mencap anak yang mengalami sedikit gangguan belajar sebagai anak yang punya masalah ketidak mampuan belajar, padahal gangguan ini sering kali di sebabkan oleh ketidak efektifan guru dalam mengajar dikelas. Pakar lainya mengatakan peningkatan jumlah anak penderita gangguan belajar ini adalah sesuatu yang pada dasarnya (Hallahan, Kauman & Lloyd, 1996).
Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar. Masalah berkesulitan belajar termasuk dalam bidang pendidikan luar biasa. Jika tidak segera ditangani, lambat laun kesulitan belajarnya semakin kompleks, dan akhirnya menjadi masalah bagi pendidikan, karena sumber daya manusia (SDM) yang dipersiapkan menjadi tidak tercapai. Untuk itu perlu adanya upaya penanganan siswa berkesulitan belajar yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.


Untuk selanjutnya silahkan klik link ini ~> PEMBAHASAN

Sabtu, 21 April 2012

Belajar Menjadi Pemimpin


          Menjawab sebuah kepercayaan yang di berikan dari orang orang dalam sebuah organisasi itu memang sangatlah berat, karena bukan hanya saja dapat berbicar dengan baik tetapi juga harus mampu mengambil keputusan dengan bijaksana di setiap keadaan sesulit apapun, karena dengan begitu jika kita bisa melakukanya bukan tidak mungkin anggota kita akan bisa sangat menghargai kita sebagaimana peran kita sebagai seorang pemimpin, akan tetapi dalam hal ini apa yang saya punya untuk menjadi seorang pemimpin, apa hanya karena pendidikan atau hanya sekedar pengisian semata, tatapi ya semua sudah terjadi dan saya kini menjadi penanggung jawab terhadap kelompok organisasi kecil yang saya ikuti, itu semua akan saya jalani dan saya laksanakan dengan sebaik mungkin karena sebuah kepercayaan itu sangat mahal harganya

Melihat dari teori Henry Mintzberg, menurut dia Peran Pemimpin adalah sebagai berikut  :
1. Peran huhungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.

       Menelik apa yang di katakan Mintzberg sepertinya hanya sedikit yang saya bisa lakukan, tetapi ini membuat saya memahami bahawa menjadi seorang pemimpin bukan hanya bisa brbicara tetapi mampu berfikir cepat dalam mengambil keputusan, untuk itu saya akan belajar lebih baik lagi dan harus bisa memahami setiap karakter anggota agar tidak terjadi miss-komunikasi di kemudaian hari. Ini adalah sebuah pengalaman yang sangat besar untuk kehidupan saya kelak, belajar menjadi pemimpin organisasi dan membuat saya juga belajar untuk disiplin dalam diri saya dan saya akan menjawabnya dengan kemampuan saya. Dan bulan mei besik adalah tugas pertama saya dalam pelaksanaan program kerja yang telah kami susun bersama. semoga ini menjadi awal yang baik untuk saya dan organisasi saya...

      Saya akan menjawab kepercayaan alian semua....Bantu saya, mari bersama-sama berjalan menuju organisasi generasi muda yang lebih baik...

Jumat, 20 April 2012

Maaf untuk semua


Dan ya,,hanya maaf yang bisa saya lakukan..untuk kalian semua,,Hari ini, Lusa, dan Kemarin Kemarin, sebelum semuanya Terlambat...

Dapat ILMU atau Hanya Sekedar NILAI


            Entah kenapa rasanya kegiatan mencari ilmu di semester ini begitu berat dan sulit untuk di pahami, apa hanya perasaan atau memang kemapuan dalam memahamiku saja yang lemah, setelah praktikum ini di mulai ada saja hal yang menggangu pikiran, tetapi itu akan bisa saya lewati, dan setiap tatangan atau permasalahan yang ada dalam diri saya bisa di atasi dengan baik maka dengan itu pula semakin kuat saya dalam menjalani tantangan hidup ini. Semoga saja itu terjadi, karena semua orang pun pasti berharap begitu.
            
         Ngomong ngomong masalah praktikum, dalam semester ini ada 2 praktikum yang saya jalani, yaitu intelejensi dan bakat serta Psikologi Eksperimen, ya semula sepertinya saya berfikir saya siap untuk menjalaninya tetapi melihat faktor teknis dan juga faktor pengarah praktikum yang begitu tidak memunginkan "tidak meyakinkan" saya menjadi sedikit berfikir di akhir nanti apakah benar-benar sebuah ilmu yang saya dapat atau hanya sekedar penuntas nilai saja, karena selama beberapakali brifing sebelum pelaksanaan Praktikum saya tidak memahami apayang di katakan oleh fasilitator saya,,,,, dan ya ketika saya menjalani praktikum pertama saya yaitu tes Binet semua menjadi kacau karena fasilitator saya tidk memperhatikan bagaimana standar praktikum yang benar,,seharusnya Hari ini tes Wais tapi sebelumnya pemeberitahuan terhadap saya tes binet,,terang saja itu membuat kami tidak yakin akan hasil praktikum saya untuk bekal saya kelak ketika selesai menuntut ilmu ini. semoga kedepan bukan seperti ini yang saya harapkan.karena bukan hanya nilai semata saja,,tetapi pemahaman dan proses itu yang di harapkan.

            Selain itu beban fikiran yang cukup banyak berterbangan akhir akhir ini membuat saya sedikit down, dan sepertinya badan ini sedikit tidak nyaman untuk menerimanya, tapi ini dia tantanganya bisa di katakan ini yang namanya selksi alam, mana yang kuat dia yang akan menang, apapun tantanganya pasti akah saya hadapi dengan sepenuh hati saya hahahaha, okey intinya untuk kedepan banyak koreksi untuk hari ini dn perbaiki untuk kegiatan selanjutnya, sakit ya nggak usah di rasakan, Obati beres mari kok hahaha LET'S GO !!!
 
© Copyright 2010 _Fahri kurniawan_
Theme by Fahri Kurniawan